“Semangat Hijrah dimomen Tahun baru Hijriyah 1443 H”



Mauidhoh Khasanah tentang

“Semangat Hijrah dimomen Tahun baru Hijriyah 1443 H”

oleh Dr KH Ahmad Siddiq SE,.MM.

Saat agenda rutin rapat bulanan kemarin, pada kesempatan tersebut Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam Pungging, Mojokerto Dr.KH Ahmad Siddiq SE,.MM menyampaikan mauidhohnya kepada Dewan Guru, Asatidz dan Asatidzah tentang pentingnya semangat perubahan atau hijrah di momen tahun baru Hijriyah 1443 H kali ini. Dalam penyampaian awalnya beliau bercerita tentang asal mula munculnya tahun baru Hijriyah, Munculnya tahun baru Hiriyah diilhami oleh cerita hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Kota Makkah ke Kota Madinah yang penuh dengan perjuangan, dikarenakan ancaman yang dilakukan oleh Kafir Qurais Makkah maka mau tidak mau Nabi Muhammad dan para Sahabatnya harus hijrah dan meninggalkan Kota kelahiranya.

Dalam perjalanan hijrahnya dari Kota Makkah ke Madinah Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk memilih jalan yang memutar atau tidak lurus dikarenakan ini memang adalah suatu Langkah Strategis yang bertujuan agar rute penjalanan hijrahnya Nabi tidak diketahui oleh kaum Qurais Makkah, karena apabila Nabi dan para Sahabat tertangkap resikonya adalah kaum Kafir Qurais akan membunuhnya. Dalam mauidhohnya Dr.KH Ahmad Siddiq SE,.MM memberi penjelasan terkait hal tersebut bahwa :

“Sebuah perjuangan tidak bisa dilakukan secara linier tapi harus dilakukan dengan Langkah-langkah Taktis dan Strategis”.

dalam arti dalam berjuang menegakkan Agama Allah SWT dan menyeru kepada kebaikan harus didasari dengan cara strategis atau pilihan – pilihan yang terbaik dan penuh perhitungan.

Selain itu, ketika dalam perjalanan berjuang dan kita sudah memilih suatu jalan yang strategis atau yang terbaik penuh perhitungan dan sudah berikhtiar semaksimal mungkin seyogyanya kita menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT. Seperti cerita perjuangan Sahabat Abu Bakar yang rela kakinya digigit ular demi keamanan nabi Muhammad SAW. Ketika dalam perjalanan hijrah ke kota Madinah Nabi Muhammad SAW dan Sahabat Abu Bakar bersembunyi di Gua yang ada dipuncak Jabal Tsur, Gunung tersebut bila ingin menaikinya membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 3 jam dan ini adalah salah satu perjuangan berat yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan Sahabat Abu Bakar.

Ketika sudah sampai di atas terdapat sebuah Gua yang Bernama gua tsur kemudian istirahatlah nabi dan abu bakar didalamnya, tak disangka ketika Nabi Muhammad SAW sedang tertidur lelap dipangkuan Sahabat Abu Bakar muncullah seekor Ular berbisa yang menjulurkan kepalanya keluar dari lubang tempat tinggalnya. Karena Abu Bakar khawatir Ular itu akan mengigit dan mengancam keselamatan Rasulullah maka tanpa pikir Panjang kaki Abu Bakar ditutupkan ke lubang Ular tersebut dan Ular tersebut mengigit kaki Abu Bakar sehingga membuat Abu Bakar merintih kesakitan dan membangunkan tidur rasulullah,

seraya Nabi Muhammad SAW bertanya : ada apa wahai sahabatku, abu bakar. Aku lihat mukamu pucat dan sepertinya engkau menahan rasa sakit?

Abu Bakar menjawab: mohon maaf Rasulullah, kaki saya digigit oleh ular yang berbisa karena aku khawatir Ular itu menggigitmu maka aku tutup lubang itu dengan kakiku.

Kemudian Rasulullah bertanya kepada Si Ular: kenapa wahai Ular engkau mengigit kaki Sahabatku tercinta Abu Bakar.

lalu Ular itu menjawab: mohon maaf ya Rasulullah, aku jengkel dengan sahabatmu itu yang telah menutup lubang tempat tinggalku dengan kakinya padahal aku hanya ingin melihat wajahmu yang indah nan mulia.

Hikmah yang dapat diambil dari cerita ini menurut Dr.KH Ahmad Siddiq SE.,MA adalah bahwa :

“Kadang kala dalam sebuah perjuangan kita sudah memilih jalan yang Strategis atau yang terbaik dan penuh perhitungan tapi Allah SWT berkehendak lain dan malah menguji kita”

Maksudnya adalah ketika Nabi Muhammad SAW sudah memilih jalan yang terbaik yaitu jalan memutar, Allah SWT masih menguji penjuangan beliau tetapi dilain hal Allah SWT juga melindungi Nabi Muhammad SAW dan Sahabat Abu Bakar dari kejaran Kafir Qurais Makkah dengan menutupi mulut Gua Tsur dengan sarang Labar-laba dan Burung-burung yang berterbangan keluar dari Gua yang menjadikan orang Kafir Qurais tidak menyadari bahwa dalam Gua tersebut terdapat Rasulullah dan Sahabat Abu Bakar yang sedang bersembunyi, Dr KH Ahmad Siddiq SE.,MM. menjelaskan bila difikir dengan akal tidak mungkin ini bisa terjadi kalau tidak atas pertolongan Allah SWT maka Rasulullah dan Sahabat Abu Bakar akan diketahui keberadaanya oleh orang Kafir Qurais.

Ketika Nabi Muhammad SAW dan Sahabatnya sudah hampir sampai di Kota Madinah perjuangan beliau belum selesai, tatkala Rasulullah istirahat di bawah Pohon yang rindang dan beliau tertidur lelap. Tanpa disangka muncul seorang Kafir Qurais yang bernama Surakah bin Nauval seraya mengacungkan pedangnya ke leher Rasulullah, dan seketika itu juga membangunkan tidur Rasulullah.

Surakah pun bertanya kepada Rasulullah: sekarang siapa yang akan melindungimu wahai Muhammad!

Rasulullah menjawab: lailahaillallah, lailahaillallah, lailahaillallah (seketika itu juga Suraqah tubuhnya gemetar dan membuat pedang yang berada ditangannya terjatuh. lalu rasulullah mengambil pedang itu dan menggacungkan ke leher suraqah sehingga keadaan menjadi terbalik),

Dan Rasulullah berbalik bertanya kepada suraqah: sekarang siapa yang akan menolongmu wahai suraqah?  (Seketika itu juga Suraqah menyatakan bahwa hanya engkau yang bisa menolongku seraya mengucapkan dua kalimat syahadat). Hikmah yang dapat diambil dari kisah hijrah nabi ini adalah bahwa:

“Walaupun kita mempunyai kekuasaan atau kekuatan belum tentu membawa kita pada sebuah kemenangan yang hakiki”

Seperti yang kita lihat dalam cerita suraqah tadi, walaupun dia pada mulanya sudah berada pada posisi yang menguntungkan yaitu pedang yang sudah berada dileher Rasulullah dan siap untuk membunuh Nabi Muhammad SAW tetapi Allah SWT berkehendak lain. Seketika itu juga keadaan dibalik oleh Allah SWT dan menjadikan Rasulullah dalam kemenangan.

Sungguh luar biasa perjuangan hijrah Nabi Muhammad SAW dan Sahabat-sahabatnya, dari ketiga cerita tersebut kita bisa mengambil pelajaran bahwa sejatinya hidup ini  adalah untuk berjuang, seperti yang dikatakan oleh Dr KH Ahmad Siddiq SE,.MM bahwa:

“Urip kuwi sejatine berjuang neng urip ora enek perjuangane ikuw uripe kurang barokah”

Beliau juga menambahkan bahwa Pondok Pesantren Nurul Islam ini juga dibangun atas dasar perjuangan dan lahan untuk berjuang li I’lai kalimatillah wa izzul islam wal muslimin karena Ponpes Nurul Islam yang dirintis dari tahun 2010 dengan Santri awal yang hanya berjumlah 30 anak yaitu 25 anak laki-laki dan 5 anak perempuan hingga sekarang yang santrinya sudah kurang lebih 4000 dibangun dengan penjuangan yang tidak mudah. Mulai perjuangan Santri yang masih mukim di Desa Jogodayo yang penuh dengan tirakat, perjuangan mendatangkan Guru dari berbagai Sekolah Negeri disekitar agar mau mengajar di Pondok Pesantren Nurul Islam, perjuangan merawat Santri yang dilakukan oleh pengasuh sendiri dengan rela mengorbankan tenaga, fikiran dan waktu hanya demi terwujudnya Lembaga Pendidikan yang berintegritas dan dapat mencetak generasi-generasi islam hebat yang berwawasan luas dan berakhlakul karimah.

Diakhir mauidhohnya Dr KH Ahmad Siddiq SE,.MM bercerita tentang kemenangan kaum muslim atau yang biasa disebut Futtuh Makkah (pembebasan Makkah) yang peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke 8 Hijriyah, yang bermula saat pondasi iman dan tauhid umat Islam di Madinah sudah kuat, Nabi Muhammad SAW memerintahkan 10 ribu pasukan untuk menaklukkan Kota Makkah. Tanpa disangka berkat kesabaran, keyakinan dan semangat dari para Sahabat akhirnya Kota Makkah dapat ditaklukkan tanpa perlawanan karena orang-orang Kafir Qurais merasa sudah tidak punya kekuatan dan lebih memilih menyerah kepada Rasulullah seraya berbondong- bondong masuk Agama Nabi Muhammad SAW yaitu Agama Islam. Seperti yang terdapat dalam QS An-Nasr Ayat: 1 – 3 yang berbunyi :

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ . وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا . فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ

وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Artinya:

“Apabila telah datang pertolongan Allah SWT dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”

Itulah sedikit rangkuman Mauidhoh khasanah Dr KH Ahmad Siddiq SE..MM tentang semangat hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para Sahabatnya saat Agenda Rapat Rutin Bulanan Dewan Guru, Asatidz dan Asatidzah. Pesan terakhir yang disampaikan oleh beliau adalah marilah dalam momen tahun baru hijriyah ini kita ilhami dengan semangat perubahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bertaqwa kepada Allah SWT seperti semangat hijrahnya Nabi Muhammad SAW dan para Sahabatnya dari Kota Makkah ke Kota Madinah, agar kita senantiasa menjadi orang yang beruntung karena dalam hadistnya Nabi Muhammad SAW menyampaikan :

مَنۡ كَانَ يَوۡمُهُ خَيۡرًا مِنۡ اَمۡسِهِ فَهُوَ رَابِحُ. وَمَنۡ كَانَ يَوۡمُهُ مثل اَمۡسه فهو مَغۡبُون. ومَن كان يومه شَرًّا مِنۡ امسه فهو مَلۡعُون

Artinya:

“Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

 

Hijrah adalah suatu keniscayaan yang ada pada setiah sendi-sendi kehidupan Manusia agar Manusia senantiasa berkembang dan terus maju menyongsong masa depan yang menanti.

Hijrah dari yang hanya melakukan kewajiban Agama dengan berat hati menjadi melakukan kewajiban Agama dengan tulus dan ikhlas hanya mengharap ridho Allah SWT.

Hijrah dari menjadi Guru yang mengajar hanya untuk memperoleh gaji menjadi Guru yang mempunyai tekad untuk menyongsong masa depan Genenrasi-generasi bangsa yang sholih dan sholihah.

Hijrah dari yang hanya mengurusi diri sendiri menjadi orang yang peduli terhadap nasib orang lain yang kurang beruntung.

 

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan mampu mengilhami para pembaca sekalian untuk meniru semangat hijrahnya Rasulullah SAW dan para sahabatnya, apabila terdapat kesalahan dalam pengetikan atau penyusunan kata-kata kami senantiasa menerima kritik dan saran yang membangun.

 

Penulis : M Ikmaluddin Alfi Hidayat (Mahasiswa UIN Maliki Malang, Program Studi Manajemen Bisnis)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *