Profil Dr. KH. Ahmad Siddiq, S.E.,M.M.



Profil Dr. KH. Ahmad Siddiq, S.E.,M.M.

Kehidupan Masa Muda

Dr. KH. Ahmad Siddiq, S.E.,M.M. lahir pada 1 Juli 1973 di Kedali, Pucuk, Lamongan dari pasangan Bapak Warijan dan Ibu Sukaini.  Beliau merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Kedua orang tua beliau meninggal saat beliau masih kecil. Alhasil, sang kakak tertua menjadi tulang punggung keluarga. Kiai Siddiq kecil dipondokkan oleh sang kakak tertua karena sang kakak mementingkan masa depan adik-adiknya. Beliau masih ingat kata-kata sang kakak yang membuatnya bertekad untuk menuntut ilmu di pesantren, ”Awakmu kudu mondok, nek gak mondok awakmu bakalan ngamen sakurip ( Kamu wajib mondok, kalau tidak mondok kamu akan jadi pengamen seumur hidup)” Pesantren pertama yang disinggahi oleh beliau adalah Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban yang diasuh oleh KH. Abdullah Faqih selama 9 tahun. Selesai lulus dari sana, beliau masih ingin meneruskan nyantri dan ingin memperdalam ilmu Nahwu-Shorof (Tata Bahasa Arab) yang penting dalam mempelajari kitab-kitab berbahasa Arab. Akhirnya, beliau melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. Maimoen Zubair selama 3 tahun. Disini, beliau memperdalam ilmu-ilmu gramatika Arab dengan sungguh-sungguh.

Karena dirasa kurang, akhirnya beliau melanjutkan mondok ke Pondok Pesantren At-Tauhid Sidoresmo, Wonokromo, Surabaya yang diasuh oleh KH. Mas Tholhah Abdullah Sattar selama 11 tahun. Masa-masa di Ponpes At-Tauhid inilah yang paling berpengaruh terhadap pola piker dan kebiasaan beliau di masa depan. Selain nyantri, beliau juga mengajar santri-santri yang lebih kecil setiap selesai salat subuh. Jumlah kitab yang beliau ajarkan ada 4 jenis, yaitu Fathul Qarib, Bulughul Maram, Matan Jurumiyah dan Nashaihul Ibad. Takhanyaitu, beliau juga ngabdi kepada KH. Tholhah sebagai pemomong anak-anak Sang Kiai yang masih berusia bayi. Hal Ini terus dilakukan beliau hingga kuliah di pergururan tinggi.

Dari Perguruan Tinggi hingga Menantu Kiai

Tak terasa, Kiai Siddiq muda telah lulus pendidikan SLTA. Beliau memutuskan untuk meneruskan pendidikan di perguruan tinggi. Beliau kemudian memilih Universitas Airlangga jurusan Hubungan Internasional sebagai kelanjutan studi beliau. Luar biasa, beliau mampu lolos dari tes masuk kuliah jurusan Hubungan Internasional yang terkenal sulit. Beliau diterima dan bisa memasuki perkuliahan. Sebelum berangkat, beliau sowan terlebih dahulu kepada Sang Guru.

Namun, rupanya KH. Mas Tholhah kurang merestui keputusan Kiai Siddiq muda tersebut. Hal ini segera ditangkap oleh Kiai Siddiq muda dan direspon cepat dengan pembatalan masuk kuliah di Universitas Airlangga jurusan Hubungan Internasional. Beliau kemudian memilih kuliah di Universitas Islam Sunan Giri Surabaya jurusan Manajemen. Untuk keputusan beliau ini, tampaknya KH. Mas Tholhah merestui. Berangkatlah Kiai Siddiq muda menuntut ilmu hingga mencapai jenjang S1.Tiap hari, beliau pulang-pergi dari pondok menuju kampus hanya dengan berjalan kaki sejauh 6 kilometer. Beliau melakukan ini tanpa pernah mengeluh karena beliau sadar, keberkahan dan kemanfaatan ilmu hanya dapat dicapai melalui proses yang panjang dan melelahkan terlebih dahulu.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *